Minggu, 21 April 2013

Penyebab Mata Butuh Kacamata (1)

Penyebab Mata Butuh Kacamata (1)

Normalnya, sinar - sinar sejajar yang masuk ke dalam bola mata akan dibiaskan oleh sistem optis bolamata dan terfokus dalam satu titik yang jatuh tepat pada retina. Kondisi ini disebut emmetropia.
mata normal
Sayang, tidak semua orang memiliki kondisi mata yang ideal seperti itu. Pada beberapa orang, titik fokus dari sinar - sinar tersebut justru jatuh di depan retina, atau di belakang retina. Bahkan, dapat terjadi sistem optis bolamata membiaskannya tidak saja menjadi satu titik fokus, tetapi malah dua atau bahkan lebih. Kondisi inilah yang disebut ammetropia, dan menyebabkan mata tidak dapat melihat dengan sempurna, bahkan kabur sama sekali. Ammetropia ini terdiri dari beberapa jenis, yaitu:
Miopia
Adalah kondisi di mana sinar - sinar sejajar yang masuk ke bolamata titik fokusnya jatuh di depan retina.
mata miopia
Istilah myopia sendiri sebenarnya baru dikenal pada sekitar abad ke 2, yang mana terbentuk dari dua kata, meyn yang berarti menutup, dan ops yang berarti mata. Ini memang menyiratkan salah satu ciri - ciri penderita miopia yang suka menyipitkan matanya ketika melihat sesuatu yang baginya nampak kurang jelas, karena dengan cara ini akan terbentuk debth of focus di dalam bola mata sehingga titik fokus yang tadinya berada di depan retina, akan bergeser ke belakang mendekati retina.
Sebenarnya, miopia juga dapat dikatakan merupakan keadaan di mana panjang fokus media refrakta lebih pendek dari sumbu orbita (mudahnya, panjang aksial bola mata jika diukur dari kornea hingga makula leutea di retina). Berdasarkan pengertian ini, maka dikenal dua jenis miopia, yaitu:
  1. Miopia aksial, adalah miopia yang disebabkan oleh sumbu orbita yang lebih panjang dibandingkan panjang fokus media refrakta. Dalam hal ini, panjang fokus media refrakta adalah normal (± 22,6 mm) sedangkan panjang sumbu orbita > 22,6 mm.
  2. Miopia refraktif, adalah miopia yang disebabkan oleh panjang fokus media refrakta yang lebih besar dibandingkan panjang sumbu orbita normal (± 22,6 mm).
Klasifikasi miopia yang umum diketahui adalah berdasarkan ukuran dioptri lensa yang dibutuhkan untuk mengkoreksinya.
  • Miopia ringan, lensa koreksinya 0,25 s/d 3,00 Dioptri.
  • Miopia sedang, lensa koreksinya 3,25 s/d 6,00 Dioptri.
  • Miopia tinggi, lensa koreksinya > 6,00 Dioptri. Penderita miopia kategori ini rawan terhadap bahaya pengelupasan retina dan glaukoma sudut terbuka.
Sedangkan klasifikasi secara klinis adalah sebagaimana berikut:
  1. Simple Myopia, adalah miopia yang disebabkan oleh dimensi bolamata yang terlalu panjang, atau indeks bias kornea maupun lensa kristalin yang terlalu tinggi.
  2. Nocturnal Myopia, adalah miopia yang hanya terjadi pada saat kondisi sekeliling kurang cahaya. Sebenarnya, fokus titik jauh mata seseorang bervariasi terhadap level pencahayaan yang ada. Miopia ini dipercaya penyebabnya adalah pupil yang membuka terlalu lebar untuk memasukkan lebih banyak cahaya, sehingga menimbulkan aberasi dan menambah kondisi miopia.
  3. Degenerative Myopia, disebut juga malignant, pathological, atau progressive myopia. Biasanya merupakan miopia derajat tinggi dan tajam penglihatannya juga di bawah normal meskipun telah mendapat koreksi. Miopia jenis ini bertambah buruk dari waktu ke waktu.
  4. Pseudomyopia, diakibatkan oleh rangsangan yang berlebihan terhadap mekanisme akomodasi sehingga terjadi kekejangan pada otot - otot siliar yang memegang lensa kristalin. Di Indonesia, disebut dengan miopia palsu, karena memang sifat miopia ini hanya sementara sampai kekejangan akomodasinya dapat direlaksasikan. Untuk kasus ini, tidak boleh buru - buru memberikan lensa koreksi.
  5. Induced Myopia, merupakan miopia yang diakibatkan oleh pemakaian obat - obatan, naik turunnya kadar gula darah, terjadinya sklerosis pada nukleus lensa, dan sebagainya.
Faktor - faktor penyebab miopia :
Pada miopia aksial;
  • Menurut Plempius (1632), memanjangnya sumbu bolamata tersebut disebabkan oleh adanya kelainan anatomis.
  • Menurut Donders (1864), memanjangnya sumbu bolamata tersebut karena bolamata sering mendapatkan tekanan otot pada saat konvergensi.
  • Menurut Levinsohn (1925), memanjangnya sumbu bolamata diakibatkan oleh seringnya melihat ke bawah pada saat bekerja di ruang tertutup, sehingga terjadi regangan pada bolamata.
Pada miopia refraktif, menurut Albert E. Sloane dapat terjadi karena beberapa macam sebab, antara lain :
  • Kornea terlalu melengkung (< 7,7 mm).
  • Terjadi hydrasi / penyerapan cairan pada lensa kristalin sehingga bentuk lensa kristalin menjadi lebih gembung dan daya biasnya meningkat. Hal ini biasanya terjadi pada penderita katarak stadium awal (immatura).
  • Terjadi peningkatan indeks bias pada cairan bolamata (biasanya terjadi pada penderita diabetes melitus).
Beberapa hal yang mempengaruhi resiko terjadinya miopia, antara lain :
  1. Keturunan. Orang tua yang mempunyai sumbu bolamata yang lebih panjang dari normal akan melahirkan keturunan yang memiliki sumbu bolamata yang lebih panjang dari normal pula.
  2. Ras/etnis. Ternyata, orang Asia memiliki kecenderungan miopia yang lebih besar (70% - 90%) dari pada orang Eropa dan Amerika (30% - 40%). Paling kecil adalah Afrika (10% - 20%).
  3. Perilaku. Kebiasaan melihat jarak dekat secara terus menerus dapat memperbesar resiko miopia. Demikian juga kebiasaan membaca dengan penerangan yang kurang memadai.
Penderita myopia yang tidak terkoreksi, biasanya akan mengeluhkan:
  • Sering sakit kepala, beberapa orang mengatakan pusing.
  • Cepat lelah mata pada waktu mengemudi, kesulitan membaca/mengamati rambu - rambu jalan.
  • Kesulitan membaca/mengamati papan tulis atau layar tampilan lcd projektor, terutama ketika posisi duduknya agak jauh di belakang.
Tanda - tanda adanya miopia ditunjukkan dengan kebiasaan penderitanya untuk memicingkan/menyipitkan mata pada saat melihat obyek pada jarak agak jauh. Pada anak - anak usia sekolah, biasanya juga ditunjukkan oleh prestasi belajar yang memburuk.
Mengatasi kondisi miopia.
Dari ulasan mengenai beberapa faktor penyebab di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kondisi miopia tersebut secara teoritis akan dapat diatasi dengan cara:
  1. Menempatkan lensa berkekuatan negatif di depan sistem optis bola mata. Cara ini paling mudah dan banyak dilakukan, yaitu dengan menggunakan kacamata maupun lensa kontak.
    mata miopia dengan lensa koreksi
  2. Mengurangi kelengkungan (artinya, membuat kondisinya menjadi lebih flat/rata) permukaan depan kornea, yang tujuannya adalah mengurangi daya bias sistem optis bolamata sehingga titik fokusnya bergeser mendekat ke retina. Metode non operatif untuk ini adalah Orthokeratology, yaitu dengan menggunakan lensa kontak kaku untuk (selama beberapa waktu) memaksa kontur kornea mengikuti kontur lensa kontak tersebut. Sedangkan metode operatif yang mulai populer di Indonesia saat ini adalah LASIK yang dianggap lebih modern dari pada PRK dan LASEK.
  3. Memperpipih bentuk lensa kristalin, yaitu dengan mempengaruhi otot siliaris yang menjadi tempat bergantungnya lensa kristalin. Namun, pada prakteknya, ini hanya dapat dilakukan jika kecembungan berlebihan yang terjadi pada lensa kristalin tersebut diakibatkan oleh kekejangan akomodasi.
  4. Mengurangi indeks bias cairan dalam bolamata. Pada prakteknya, hingga saat ini, penulis belum menemukan referensi yang menyebutkan bahwa secara ilmiah kedokteran ada yang berhasil melakukannya.
http://www.optiknisna.info/myopia.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Berikan komentar untuk kemajuan blog ini seterusnya.